Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh :)
selamat pagi, selamat beraktivitas :)
saya disini baru baru banget ngewrite ngeblog gini , jadi kalau ada kesalahan atau apa kek , maafin ya .
disini saya mau bagi bagi ceramah agama nih , referensinya dari baku buku gitu , trus saya rubah kata katanya , sempat saya bawakan pas lomba gitu , alhamdulillah dapat juara . hehehehe
ini gak sombong ya :D just to tell you .
oke gak lama lama , selamat membaca dan semoga ada banyak orang yang hatinya tersentuh dan bertaubat deh :D
oya , ini tentang menuntut ilmu ya !
أََالسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّه وَبَرَكاَتُهُ
إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا
ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا
إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله...
Puji dan Syukur tak henti kita panjatkan kepada Allah SWT yang tiada henti
memberikan nikmat, berkah, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Karena nikmat dan
hidayah dari Allah berupa keimanan dan keislaman-lah yang membuat kita tetap
kokoh berjalan di atas jalan Allah. Dan nikmat kesehatan dan kesempatan dari
Allah pula sehingga hari ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka
melaksanakan salah satu aktivitas yang merupakan kewajiban kita sebagai umat
Islam, yakni menuntut ilmu.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad
SAW, yang diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini sebagai rahmatan lil alamiin,
yang telah menggempur kesesatan dan mengibarkan panji-panji kebenaran, serta
memperjuangkan islam hingga sampai kepada kita sebagai rahmat tak terperi dari
allah SWT.
Para hadirin yang dimuliakan Allah, pada kesempatan kali ini saya akan
membawakan ceramah tentang “Keutamaan menuntut Ilmu”
Kita lahir di bumi ini dalam keadaan tak berilmu. Oleh karena itu, setiap orang
tua berkewajiban mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anaknya.
Karena manusia lahir ke dunia dalam keadaan tak berilmu, maka Allah SWT
memerintahkan kepada semua manusia, terutama umat islam untuk belajar atau
menuntut ilmu sebagai bekal untuk menjalani hidup. Hal ini sesuai dengan sabda
Rasul;
“Belajarlah karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai, dan pemilik
ilmu itu tidak sama dengan orang yang bodoh.”
Dalam pandangan islam, ilmu adalah sesuatu yang tergolong suci. Ilmu bagaikan
pelita atau cahaya di malam yang gelap. Seseorang tak kan dapat berjalan dengan
baik di malam yang gelap tanpa cahaya atau pelita, demikian pula halnya tak
dapat seseorang membedakan yang benar dan salah, kecuali dengan ilmu.
Mengenai perintah menuntut ilmu, Allah SWT memerintahkan secara tersirat dalam
wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, QS Al-Alaq ayat 1 – 5:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Wahyu pertama ini, sebagai tanda pengangkatan Muhammad menjadi utusan Allah,
memerintahkan “Iqro’= bacalah”. Meski tak secara langsung mengatakan
“belajarlah”, namun perintah Allah dalam ayat ini untuk membaca adalah perintah
tersirat kepada manusia untuk belajar, karena membaca merupakan salah satu cara
untuk belajar. Membaca yang dimaksudkan disini tak sekedar membaca buku atau
materi pelajaran, tetapi juga bermakna sebagai perintah untuk membaca dan
memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Tidakkah kita sadari bahwa wahyu pertama ini, yang memerintahkan untuk membaca
mengandung makna yang luas tentang pentingnya belajar? Allah tidak menurunkan
wahyu pertama berupa perintah untuk shalat, puasa, sedekah, zakat dan
sebagainya, tetapi perintah “Iqro’ = bacalah” yang dapat kita tafsirkan sebagai
perintah untuk belajar. Ini menunjukkan bahwa sebelum kita beramal, kita wajib
berilmu, yang insya Allah akan mengantarkan pada kebahagiaan dunia akhirat.
Islam tidak menghendaki umatnya sengsara di dunia dan di akhirat. Oleh sebab
itu perintah menuntut ilmu tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan.
Tegasnya, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam, meskipun di tempat
yang jauh dari negerinya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
“Tuntutlah ilmu walaupun di negeri China karena sesungguhnya menuntut ilmu itu
wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap
mereka pada penuntut ilmu karena ridha terhadap ilmu yang dituntutnya.’ (HR
ibnu Abdi Al-bar)
Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum menuntut ilmu pada
dasarnya adalah wajib/fardhu. Ada yang hukumnya fardhu ‘ain seperti menuntut
ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah seperti cara
berwudhu, shalat, dan sebagainya. Ada pula yang hukumnya fardu kifayah, seperti
ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk mendukung urusan-urusan dunia, seperti ilmu
kedokteran karena ilmu ini menjadi sesuatu yang penting untuk memelihara tubuh,
atau ilmu hitung karena ini menjadi sesuatu yang penting didalam muamalah (jual
beli), pembagian wasiat, harta waris dan lainnya. Selain itu, hukum menuntut
ilmu bisa berubah menjadi haram jika ilmu yang dipelajari dapat mendatangkan
mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain, atau menyesatkan dan
membahayakan, seperti ilmu hitam, ilmu sihir, ilmu santet dan sebagainya.
Allah mewajibkan manusia menuntut ilmu bukan tanpa sebab. Ada banyak sekali
keutamaan menuntut ilmu yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu sebagaimana
firman-Nya dalam QS Al-Mujaadilah ayat 11:
….. Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4
.......
‘…..niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…...” (QS
Al-Mujaadilah: 11)
Dari ayat tersebut, tersurat janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang
yang beriman dan berilmu, tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Hal ini
sejalan dengan sabda Rasulullah tentang kebahagiaan dunia akhirat yang dapat
diperoleh dengan memiliki ilmu pengetahuan:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ الأخِرَةَ
فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ
“Siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka harus dengan ilmu, siapa
yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka harus dengan ilmu, dan siapa yang
menginginkan (kebahagiaan) keduanya (dunia dan akhirat), maka harus dengan
ilmu”
Pekerjaan menuntut ilmu merupakan ibadah. Orang yang menuntut ilmu akan
diberilkan pahala yang sangat besar dan dimudahkan baginya jalan menunju surga.
Rasulullah Saw bersabda:
“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga” (HR Muslim)
Satu hal lagi yang harus diketahui, bahwa orang yang berilmu memiliki pendirian
yang teguh, tidak mudah terombang-ambing, serta tidak mudah tergoda oleh
bujukan syaitan. Bahkan dalam sabdanya Rasulullah menyebutkan bahwa seorang
yang berilmu (alim) lebih sulit digoda oleh syaitan dari pada 1000 ahli ibadah
yang tidak berilmu;
“Seorang yang alim lebih sulit digoda oleh syaitan dari pada 1000 ahli ibadah
(yang tidak berilmu)” (HR. Tirmidzi)
Selanjutnya, yang tak kalah pentingnya untuk direnungkan adalah bahwa pada
suatu saat nanti, yang kita tak ketahui kapan datangnya, entah hari ini, esok,
lusa atau kapan saja Allah berkehendak, malaikat maut akan datang menjemput
kita untuk menjalani kehidupan lain di alam berbeda. Ketika masa itu tiba, tak
ada lagi yang dapat kita lakukan untuk menambah isi pundi-pundi pahala kita,
terputuslah kita dari kehidupan dunia, kecuali 3 hal yaitu shadaqoh jariyah,
ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang selalu mendoakan, sebagaimana
sabda Rasul;
“Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya keculai 3 hal, yaitu
shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendoakan orang
tuanya.” (HR Muslim)
Hadits ini menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai investasi masa
depan. Dengan sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak soleh yang
selalu mendoakan, kita tetap mendapat tambahan pahala meski kita tak lagi
menjalani kehidupan di alam fana ini. Hadits ini juga menyiratkan perintah
untuk ‘memanfaatkan’ ilmu yang kita miliki. Tak hanya sekedar mengetahui suatu
ilmu, tetapi perlu pengamalan dalam kehidupan. Kata orang bijak ‘ilmu tanpa
pengamalan ibarat pohon tanpa buah”. Ada pula yang menyebutkan, ilmu tanpa
amal, pincang, dan amal tanpa ilmu, buta. Oleh karen aitu harus ada kesesuaian
antara ilmu dan amal.
Selain mengamalkan ilmu yang kita miliki, kita juga diperintakan berbagi ilmu
atau mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain. Berbagi ilmu dengan
orang lain tak sama dengan berbagi harta. Jika kita memberikan harta kita
kepada orang lain, maka secara otomatis kita akan kehilangan harta itu atau
dengan kata lain kita tak lagi memilikinya. Berbeda halnya dengan memberikan
ilmu. Jika kita mengajarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain, kita tidak akan
kehilangan ilmu pengetahuan yang kita miliki, tetapi malah semakin menambah
penguasaan kita terhadap ilmu tersebut.
Yang harus kita ingat adalah ilmu yang dimiliki hendaknya tidak membuat kita
tinggi hati dan merasa lebih hebat dari orang lain. Niat menuntut ilmu
hendaknya didasari keikhlasan karena Allah SWT. Orang yang menuntut ilmu dengan
niat untuk membanggakannya di hadapan manusia diancam akan dimasukkan ke dalam neraka.
Sabda rasul yang artinya:
“Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan
untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan
pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan
untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka
baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)”
Ilmu pengetahuan berkembangan seiring dengan perkembangan zaman. Jika kita
berhenti belajar, sementara ilmu pengetahuan semakin berkembang, maka kita akan
tertinggal. Oleh karena itu, proses belajar manusia tak hanya berhenti ketika
kita menyelesaikan studi di bangku pendidikan. Menuntut ilmu tak hanya
dilakukan di bangku sekolah atau kuliah. Sejatinya, dunia ini adalah
laboratorium pendidikan. Setiap elemennya adalah sarana untuk menambah wawasan
dan mengambil pelajaran. Karena itulah, proses belajar manusia seharusnya
berawal sejak manusia dilahirkan hingga kematian menjemput. Rasulullah SAW
bersabda:
Pentingnya Menuntut Ilmu
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”
Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau
pendidikan seumur hidup. Berdasar dari hadits itu pula, kita seharusnya
termotivasi agar tak pernah lelah untuk belajar. Kita niatkan perjuangan
menuntut ilmu ini sebagai ibadah kepada Allah, dengan niat suatu hari kelak
akan kita bagi kepada orang lain, agar ilmu yang kita miliki tak hanya
bermanfaat buat diri kita, tetapi juga makhluk Allah yang lain.
Jangan pernah berhenti belajar hal-hal bermanfaat, selama kita masih diberi
kesempatan oleh Allah. Dengan niat ikhlas kartena Allah, mudah-mudahan kita
semua memperoleh keutamaan menuntut ilmu seperti yang dijanjikan oleh Allah dan
Rasul-Nya. Aamiin.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Jika ada kekurangan itu datangnya dari diri saya sebagai makhluk dhoif yang tak
luput dari khilaf, dan atas semua kesalahan itu mohon dimaafkan dan dimohonkan
ampun kepada Allah SWT. Semua kebenaran yang terucap datangnya dari Allah SWT
sebagai sang Khalik yang Maha Sempurna, semoga dapat dijadikan pelajareab dan
bahan renungan. Akhir kata:
Nuun, walqalami wamaa yasthuruun